Konsekwensi atas pembelahan diri adalah sebuah anugerah untuk bisa selalu berdialog dengan diri sendiri. 3 sayap ekstrem menyatu dalam satu diri, berdialektika setiap saat.
Mungkin karena ini, mereka menyebutku “sinting”.
Ah, itu hanya anggapan mereka saja, tak perlu memikirkan setiap anggapan diri di luar diri, karena itu bisa mendistorasi anggapan di dalam diri ini sendiri.
Toh mungkin mereka tidak mau jujur dan sadar dengan keadaan yang mereka alami sekarang
Berpura-pura untuk selalu berjalan di atas rel azas moral umum, yang bahkan mereka sendiri pun tak tahu postulat yang di pakai rel itu sendiri.
Aku memang memilih berjalan di atas rel ku sendiri, bukan karena aku menolak rel azas moral umum itu, dan sengaja menciptakan rel yang lain sebagai tandingannya.
Tapi aku hanya tidak mau semua tindak tanduk ku, aku kerjakan secara tidak sadar dan melepaskan tanggungjawab yang ada padanya.
Aku mau diriku disalahkan hanya atas nama ku saja, tidak menjalar ke mana mana.
Karenanya aku berjalan hanya atas dasar kesadaran ku saja.
Kesadaran dalam keraguan ekstrem yang melampaui keraguan itu sendiri, yang mebentuk kepercayaan di luar domain dualitas antara kepercayaan dan keraguan.
Supaya aku bisa menerima setiap probabilitas yang mungkin ada walau hanya sebesar buih debu pun, satu dari ke tak terhinggaan.
3 Sayap ini yang sebenarnya adalah 3 jalan, yang sebenarnya adalah 3 keyakinan atau kepercayaanku saat ini.
Jadi ungkapan 3 sayap yang ku pakai saat ini adalah metafor dalam metafor yang aku gunakan untuk penggambaran bahwa, dengan 3 sayap ini aku sudah bisa terbang lebih jauh dari mereka yang hanya terbang dengan 1 sayap.
Ya, burung yang hanya punya 1 sayap pada umumnya akan menganggap burung yang punya3 sayap adalah burung aneh, atau mungkin burung ajaib. Itulah dasar stigma “sinting”yang melabeli ku kini.
Setelah tulisan ini pun, pasti akan lebih banyak burung bersayap 1 yang mengatakan aku “SINTING”.
Gus Sohe
Jakarta, 26 Agustus 2017