Lihatlah aku saudaraku
Tubuhku berkeringat deras
Badan ku gemetar hebat
Dan diriku menggigil dengan dasyatnya
Ketika pikiran sesat muncul dalam diriku
Aku kehilangan keberanian untuk berdiri di atas jalan perjuangan ini
Dirikupun dipenuhi dengan kecintaan berlebih akan dunia ini
Dan ini adalah saat yang tak pernah aku ingin rasakan lagi
Ketika ketakutan ku akan sebuah masa depan yang tak pasti menghantui
Ketika hidup yang normal telah di taruhkan di altar perjudian yang masih misteri
Ketika kesia-siaan pun membayangi setiap langkah perjuangan
Ketika kematian dalam keadaan seperti itu menjadi menyuramkan
Ketakutan ketakutan dan ketakutan
Telah mengalir masuk bak darah dalam diri yang kurus ini
Menggantikan setiap tetes darah juang dalam diri
Mengkontruksi sebuah jiwa seorang pengecut lagi cacat
Sungguh malang jiwa yang terbentuk seperti ini saudaraku
Juga ketika cinta mulai tumbuh
Membuat diri menjadi seorang yang tak bebas
Terikat dalam setiap simpul kecintaan yang mengikat
Terhadap ikatan duniawi yang sungguh ilusif
Cinta inilah yang telah membuat perjuangan ini menjadi klise
Cinta inilah yang membuat diri menjadi takut
Takut kehilangan sesuatu yang sungguh dicintai
Yaitu kehidupan yang normal tanpa anomali, kehidupan dalam batas kewajaran
Bisa kau bayangkan saudaraku
Betapa mudahnya menebak perjalanan hidup seorang yang memiliki kehidupan normal
Kau hanya hidup di atas kehidupan mu sendiri
Hampir semua orang di dunia, melakukan hal yang serupa
Kehidupan macam ini adalah kehidupan yang wajar
Justru karena kewajarannya lah ia tak berarti
Lalu kehidupan itu menjadi tak penting untuk dijadikan sebuah cerita
Dan selanjutnya hilang, bahkan tak berbekas dalam ingatan peradaban
Inilah implikasi dari sebuah kehidupan yang normal, sebuah kehidupan yang wajar
Aku menghindarinya bukan hanya saja karena implikasi ini
Tetapi ada sesuatu yang lebih esensial
Itu adalah panggilan transendental
Sebuah panggilan yang tak ter “erti” kan oleh ku
Satu-satunya yang ku mengerti adalah ini merupakan panggilan ilahiah
Panggilan yang mengilhami sebuah revolusi peradaban
Yang pernah terjadi di berbagai belahan ruang dan waktu
Panggilan itulah yang sedang aku tuju saudaraku
Panggilan yang menyeru untuk meninggalkan kehidupan yang kalian katakan normal itu
Menuju ke kehidupan yang kalian katakan sebagai anomali, menyimpang, tak wajar
Aku menyebutnya kehidupan dalam jalan perjuangan
Aku mengutuk diriku sendiri jika aku berpaling dari panggilan ini
Pikiran sesat ini tidak boleh dibiarkan berkuasa dalam diriku walau sesaat
Cinta ini juga tak boleh membuat aku terikat dalam ikatan yang melumpuhkan
Aku harus kembali ke muara panggilan ilahiah ini
Walau perjalanan ini sangatlah panjang
Walau kegulitaan gelap menjadi realita setia yang menyertai
Walau hanya aku satu-satunya dan kesendirian yang akan menjadi temanku
Diriku yang lemah ini harus menerima ini semuanya
Itu tidaklah sebanding dengan apa yang sedang aku perjuangankan.
Resiko ini sangatlah kecil dibanding dengan kebesaran cita-cita yang menjadi destinasi perjuangan ini
Karena aku menyadari
Bahwa hidupku tak ada artinya jika selain hidupku itu tak berarti
(Jakarta, 30 September 2017)