Panggilan Transendental

Oleh : Gus Sohe

Lihatlah aku saudaraku

Tubuhku berkeringat deras

Badan ku gemetar hebat

Dan diriku menggigil dengan dasyatnya

Ketika pikiran sesat muncul dalam diriku

Aku kehilangan keberanian untuk berdiri di atas jalan perjuangan ini

Dirikupun dipenuhi dengan kecintaan berlebih akan dunia ini

Dan ini adalah saat yang tak pernah aku ingin rasakan lagi

Ketika ketakutan ku akan sebuah masa depan yang tak pasti menghantui

Ketika hidup yang normal telah di taruhkan di altar perjudian yang masih misteri

Ketika kesia-siaan pun membayangi setiap langkah perjuangan

Ketika kematian dalam keadaan seperti itu menjadi menyuramkan

Ketakutan ketakutan dan ketakutan

Telah mengalir masuk bak darah dalam diri yang kurus ini

Menggantikan setiap tetes darah juang dalam diri

Mengkontruksi sebuah jiwa seorang pengecut lagi cacat

Sungguh malang jiwa yang terbentuk seperti ini saudaraku

Juga ketika cinta mulai tumbuh

Membuat diri menjadi seorang yang tak bebas

Terikat dalam setiap simpul kecintaan yang mengikat

Terhadap ikatan duniawi yang sungguh ilusif

Cinta inilah yang telah membuat perjuangan ini menjadi klise

Cinta inilah yang membuat diri menjadi takut

Takut kehilangan sesuatu yang sungguh dicintai

Yaitu kehidupan yang normal tanpa anomali, kehidupan dalam batas kewajaran

Bisa kau bayangkan saudaraku

Betapa mudahnya menebak perjalanan hidup seorang yang memiliki kehidupan normal

Kau hanya hidup di atas kehidupan mu sendiri

Hampir semua orang di dunia, melakukan hal yang serupa

Kehidupan macam ini adalah kehidupan yang wajar

Justru karena kewajarannya lah ia tak berarti

Lalu kehidupan itu menjadi tak penting untuk dijadikan sebuah cerita

Dan selanjutnya hilang, bahkan tak berbekas dalam ingatan peradaban

Inilah implikasi dari sebuah kehidupan yang normal, sebuah kehidupan yang wajar

Aku menghindarinya bukan hanya saja karena implikasi ini

Tetapi ada sesuatu yang lebih esensial

Itu adalah panggilan transendental

Sebuah panggilan yang tak ter “erti” kan oleh ku

Satu-satunya yang ku mengerti adalah ini merupakan panggilan ilahiah

Panggilan yang mengilhami sebuah revolusi peradaban

Yang pernah terjadi di berbagai belahan ruang dan waktu

Panggilan itulah yang sedang aku tuju saudaraku

Panggilan yang menyeru untuk meninggalkan kehidupan yang kalian katakan normal itu

Menuju ke kehidupan yang kalian katakan sebagai anomali, menyimpang, tak wajar

Aku menyebutnya kehidupan dalam jalan perjuangan

Aku mengutuk diriku sendiri jika aku berpaling dari panggilan ini

Pikiran sesat ini tidak boleh dibiarkan berkuasa dalam diriku walau sesaat

Cinta ini juga tak boleh membuat aku terikat dalam ikatan yang melumpuhkan

Aku harus kembali ke muara panggilan ilahiah ini

Walau perjalanan ini sangatlah panjang

Walau kegulitaan gelap menjadi realita setia yang menyertai

Walau hanya aku satu-satunya dan kesendirian yang akan menjadi temanku

Diriku yang lemah ini harus menerima ini semuanya

Itu tidaklah sebanding dengan apa yang sedang aku perjuangankan.

Resiko ini sangatlah kecil dibanding dengan kebesaran cita-cita yang menjadi destinasi perjuangan ini

Karena aku menyadari

Bahwa hidupku tak ada artinya jika selain hidupku itu tak berarti

(Jakarta, 30 September 2017)