Hidup ini hanya sekejap, sebelum kita melanjutkan perjalanan ke fase selanjutnya.
Entah fase penyatuan dengan semesta, pertanggungjawaban laku yang pernah kita perbuat, reinkarnasi hidup kembali, atau hanya mati tanpa fase lanjutan.
Masalah itu adalah domain di luar kuasa kita, tak perlulah kita mencurahkan kesadaran kepada sesuatu yang bukan berada di domain kuasa kita, biarlah ia berjalan dengan sendirinya.
Lebihlah bijak jika kita berfokus untuk selalu sadar dengan laku dan tindakan kita yang memang ada di domain kuasa kita sendiri.
Lakukan apapun sebagaimana sepatutnya kita lakukan.
Ketika lapar makanlah, ketika haus minumlah, ketika senang tertawalah, dan ketika sedih menangislah.
Lakukanlah semua hal yang patut untuk di lakukan hanya karena kesadaran untuk melakukan hal itu sendiri, buanglah segala motif tindakan mu agar kau terbebas dari lingkaran determinisme tanpa batas yang membuatmu bak boneka yang tak berdaya akan segala tindakanmu sendiri.
Tapi, kau pun memiliki sebuah kebebasan untuk memilih menjalani kehidupan seperti apa yang akan kau jalani.
Aku juga tidak ingin membatasi kebebasanmu, yang akan membuatmu tak sadar untuk menjalani hidup.
Kau secara bebas bisa bersikap secara sadar atas tulisan ku ini, yang aku harapkan hanya kau melakukannya secara sadar dalam bersikap.
Semua yang hidup pasti akan mati. Begitulah kiranya sebuah nasihat yang bijak yang berlaku di segala zaman.
Itu akan menjadi stimulus setidaknya bagi kesadaran hidup kita dalam menjalani kehidupan ini.
Kepercayaan apapun yang kau percayai, keyakinan apapun yang kau yakini, asas moral apapun yang kau pakai, tidaklah penting dan tidak sepatutnya untuk di adu dalam arena nilai 3 kutub, apa itu benar salah, apa itu baik buruk, apa itu indah jelek.
Karena di dunia ini tidak ada yang bisa melampaui pikirannya sendiri. Tidak ada yang bisa melampaui kesadarannya sendiri. Tidak ada yang bisa lepas dari subjektifitas kedirian yang bersifat mutlak ini.
Semua pastilah bersifat relatif, relatif subjektif. Kita hanya bisa mengusahakan sebuah ketendensiusan kepada sebuah keobjektifan untuk universalitas pandangan.
Pertanyaan kritis yang timbul kemudian adalah, mengapa kita harus mengusahakan keobjektifan? Apakah ke subjektifan itu bukan sisi lain dari ke objektifan? Mengapa kita memilih satu sisi dan menolak sisi lain?
Sekali lagi, pikiran kita lah yang memerankan bagian pemisahan ini. Pikiran kita memang bersifat dualis, itu adalah cara pikiran kita bekerja, memisahkan dan membedakan yang sejatinya satu.
Terkadang kita harus lepas dari candu pikiran kita sendiri dan melampaui pikiran kita sendiri.
Ini bukan hal yang mudah di lakukan, hanya dengan sebuah latihan lah ia bisa di tempuh.
Menjalani kehidupan dengan kesadaran total, saat demi saat, melakukan yang sepatutnya di lakukan hingga waktu dan kematian akan memisahkan kesadaran dan rasa kita dari jasad yang bisa membusuk ini.
Selamat menjalani kehidupan untuk menuju kematian.
Gus Sohe
Jakarta, 27 Agustus 2017