Lama aku berdiri di depan pintu itu,
sebelum berani untuk mengetuk.
Kuhafal dulu apa yang akan kukatakan,
kuulang di kepala sampai terdengar tenang,
padahal jantungku tak pernah sekalipun tenang.
Ada versi diriku yang menyuruh pulang saja,
biarkan rasa ini mati diam-diam,
tak usah di ketuk-ketukkan.
Tapi ada yang lebih dalam di dalam diriku berkata,
rasa yang tak pernah dikatakan,
akan menghantui lebih lama dari rasa yang di tolak.
Maka kuketuk.
Sekali.
Seluruh keberanianku habis dalam satu ketukan itu.
Kau membukanya,
Dan dibelakangmu, di ruang hangat itu,
aku lihat sudah ada yang duduk,
di kursi yang tanpa aku tahu,
diam-diam kusiapkan untukku sendiri.
Aku menyiapkan kursi di rumah yang bukan milikku.
Itu salahku, bukan salahmu.
Harapan memang seorang kuli yang lancang.
Ia mendirikan ruang untuk kita,
di tanah yang tidak pernah kau janjikan.
Kau tak menutup pintu buru-buru.
Kau tak berkata rumahmu kosong padahal terisi.
Kau biarkan aku melihat kedalam,
dan justru kejujuran itulah,
yang menikam paling dalam,
sekaligus paling ku hormati.
“Aku sudah bersama orang lain” katamu.
Pelan, tanpa rasa kasihan yang dibuat-buat.
Tanpa maaf yang gemetar dan berlebihan.
Pelan itu tidak melunakkan luka,
tapi ia membersihkannya, seperti air pada sebuah sayatan.
Aku berdiri di ambang pintu itu.
Tak jadi masuk, dan belum bisa pergi.
Di ambang pintu itu, antara di dalam dan di jalan.
Luka dan terima kasih bertemu.
Saling pandang,
lalu berjabat tangan seperti dua tamu tak terduga.
Luka berkata : “Kursi itu bukan untuk mu tak akan pernah”.
Terima kasih menjawab : “Syukur ia berkata sekarang,
sebelum kau menua menunggu di sebuah kursi,
yang memang tak dibuat untuk dirimu.”
Kudengar keduanya, kubenarkan keduanya.
Dan untuk pertama kali yang ku tahu,
dua hal yang bertentangan bisa sama-sama benar.
Di dada satu orang yang sedang patah.
Lalu ku lakukan hal tersulit malam itu,
kututup pintu itu dari luar.
Perlahan, agar engselnya tak berderit,
agar yang di dalam tak terjaga,
agar kehangatanmu tak terusik,
oleh langkahku yang mundur perlahan.
Bukan pintu yang kubanting.
Aku terlalu menghormatimu untuk membantingnya.
Kututup ia seperti orang yang menutup buku bagus,
yang halaman terakhirnya bukan tentang dirinya yang kecewa,
tapi yang tak menyesal pernah membacanya.
Di jalan pulang aku tak menangis keras.
Hanya gerimis kecil di dalam dada,
yang kubiarkan turun sendiri, tak kuseka.
Seperti orang yang paham hujan ini memang perlu,
meski ia membuatku menggigil sepanjang jalan.
Malam-malam sesudahnya lebih sunyi.
Kadang tanganku bergerak sendiri, hendak mengetuk udara.
Lalu kuingatkan ia, pintu itu sudah tertutup,
dan pintu yang tertutup dengan hormat,
tidak untuk diketuk dua kali.
Yang kubawa dari rumahmu cuma dua.
Tangan kosong, yang tadinya ingin kau genggam,
dan sebuah bisik, terlalu pelan untuk kau dengar.
Semoga kau bahagia dikursi itu,
bersama orang yang lebih dulu kau pilih daripada aku.
Aku tak menamainya do’a yang khusyuk.
Ia hanya bisik seorang yang kalah,
tapi kalah dengan bersih.
Ku perhatikan sungguh-sungguh,
ke pintu yang tak akan ku ketuk lagi.
Dan anehnya, sesudah bisik itu,
Dadaku sedikit lebih ringan.
Barang kali begitulah cinta yang tak kesampaian menutup dirinya.
Bukan dengan benci, bukan dengan tanya “Kenapa bukan aku?”
Tapi dengan tangan yang menutup pintu pelan-pelan,
dan mulut yang walau perih,
masih sanggup mengucap terima kasih.
(Jakarta Timur, 12 Juli 2026 Pukul 00:20 WIB)