Apa yang kini terjadi adalah sebuah keajaiban!
Keajaiban yang mungkin adalah ketidaksengajaan
Bisa juga sebuah kebetulan nan mengherankan
Atau sebuah ujian untuk kedirian?
Romantisisme itu aku rasakan lagi
Romantisisme yang dulu pernah aku caci
Tapi kini antara ilusi dan delusi?
Keduanya, mungkin yang aku alami
Getaran yang tak bisa aku jelaskan
Sebuah gelombang yang ada di tengah dada
Tepat didalam jatung yang mungkin disebut jiwa
“Syiir tanpo waton”
Adalah pil pertama yang aku telan
Sebuah ketaksengajaan disaat aku mendengarkannya
Lalu kemudian kecenderungan itu muncul
“Lir Ilir, Shalawat Badar, Astagfirullah”
Itu sebagai imbas atas kecenderungan itu
Obat selanjutnya yang tertelan
Merancukan aktivitas mental di dalam pikiran ku
Sosok itu ialah Gus Dur dan Cak Nun
Tentu bukan itu nama aslinya
Tapi nama itu lebih lumrah melabeli mereka
Pengedar, aku menyebutnya kini
Merekalah yang telah memberi keanehan itu
Keanehan yang sekarang aku alami
Memberi warna sendiri di dalam tabula rasaku
Memberi kesan sensasi sentimental ini
Toh, tidak berhenti disitu
Efek sampingnya lebih akut dari itu
Kejernihan dan kebijaksanaan pikiran Filsafat dan zenku
Ikut terpengaruh oleh obat ini
Pendengaranku telah menemukan suara berwarna indah
Dan memberikan kedamaian sendiri dalam melihatnya
Warna yang terasa indah nan sejuk
Menjadi candu yang berbau wangi untuk hidungku
Aku menduga ada permainan yang sedang dimainkan
Oleh sang bandar terhadapku
Mengacaukan semua Indra yang aku punya
Juga memperdaya akal yang sedang bekerja
Lewat dua obat haram ini
Juga dua pengedar yang berbeda tapi sama misi
Lewat jalan yang paling keji
Ketidaksengajaan, kebetulan, dan kekhilafan ku
Nampaknya Ia sedang ingin bermesraan denganku
Mencoba merayuku dengan obat itu
Sungguh picik Ia jika memang demikian
Tapi, aku tak menolak kemesraan yang ia tawarkan
Ia tahu keadaanku sekarang
Ia memang benar – benar tahu
Karena Ia adalah Yang Maha Tahu
Jadi wajar kalau Ia tahu
Aku pun sedang menikmati candu ini
Sebuah narkotik yang Ia berikan
Sungguh, tak bisa di sia – siakan
Sebagai kemesraan diantara kami
Ini menunjukkan itikad baik Nya kepadaku
Apakah aku tega tak berlaku sama dengan Nya?
Sebagaimana yang Ia ajarkan kepadaku
Aku menerimanya dengan mengharap juga ridha Nya
Melalui dua pengedar Nya ini
Kini aku bisa kembali
Menggunakan obat ini
Juga memasuki dunia gelap ini
Ia adalah bandar narkotik yang baik
Karena telah menerima pria suci ini
Menjadi seorang pemakai obat Nya
Yang aku akan pasrahkan diri hanya kepada Nya
Iyyaka nabudu
Waiyyaaka nastaiin
Hasbunallah wanikmal wakil
Nikmal maula wanikman nasir
(Cibubur, 12 Januari 2017)
Sajak ini adalah sebuah upaya Dzikrullah oleh hamba yang hina dengan segala kebodohannya.
Sebuah langkah kecil dalam tapakkan jalan yang masih misteri.
Hasil bukanlah hasil yang ku inginkan, tetapi proses merupakan kemuliaan yang aku pahami saat ini.
Sebuah upaya yang juga senantiasa terupaya akan bantuan Allah.
Karena sesungguhnya tiada daya dan upaya selain dengan pertolongan Allah.
Empirisme ku tentang dinamika spiritual dengan Nya.
Hanya milik aku yang merasakannya.
Walaupun aku ingin mengungkapkannya, dan menjelaskannya.
Toh, kepahamanku soal empirisme ini tidak akan benar – benar terpahami oleh kalian.
Karena ruang dan waktu yang memang membatasi kita.
Juga Ia tak menginginkannya.
Sebuah kemesraan bersama dengan Nya ialah suatu anugrah yang tak terhingga.
Terlalu mahal untuk didapatkan oleh orang kaya.
Juga terlalu sulit untuk didapatkan oleh orang miskin.
Karena keberuntungan, keajaiban, dan kemurahan Nya lah yang menentukan.
Ia lah Yang Maha Mengatur bukan Ia yang diatur.
Apalah kita dihadapan Nya.?
Oooowh, ternyata pertanyaan itu tak sepantasnya kita tanyakan!
Jawaban “Bukan apa-apa” pun terlalu tinggi untuk nilai atas pertanyaan itu.
Karena Ia sungguh Yang Maha Besar.
Pemahaman apapun tentang Nya yang kita punya.
Tak akan mampu mendeskripsikan Nya.
Tidak ada benar dan salah karena Ia melampauinya.
Tidak ada baik dan buruk karena Ia melampauinya.
Tidak ada indah dan jelek karena Ia juga melampaiunya.
Bermesraanlah dengan Nya dengan cara kita sendiri sendiri.
Karena Ia hadir dengan cara yang berbeda pula.
Berhentilah bernafas, rasakanlah udara yang mengambang dalam dadamu.
Alamilah sendiri per’sua’anmu itu.
Salam Damai.