Prolog (Akhir dari Zaman Rasio)
Aku hidup di zaman ketika rasio tidak lagi menjadi cahaya, melainkan senjata. Di setiap layar dan podium, manusia berbicara dengan logika yang tampak jernih, namun diselimuti kepentingan. Kita membanggakan diri sebagai makhluk rasional, tetapi keputusasaan global membuktikan sebaliknya, rasio telah kehilangan jiwanya.
Dunia modern adalah laboratorium akal yang kehilangan eksperimen moralnya. Ilmu berkembang tanpa arah, hukum bekerja tanpa makna, dan politik berputar tanpa kesadaran. Kita membuat sistem yang canggih untuk mengatur hidup, tapi tidak tahu lagi mengapa hidup perlu di atur. Kita membangun tatanan hukum, ekonomi, dan teknologi, tetapi semuanya terasa seperti tubuh tanpa roh.
Aku menyaksikan manusia memuja rasionalitas, sebagaimana dulu mereka memuja dewa. Namun kali ini pemujaan itu lebih sunyi, karena tak ada do’a, hanya ada algoritma. Mereka tidak lagi berlutut di altar keabadian, melainkan di hadapan layar yang memantulkan wajah mereka sendiri. Dan disanalah aku memahami: zaman ini tidak kehilangan Tuhan, ia kehilangan makna berpikir.
Dulu, rasio lahir sebagai cahaya pembebas. Descrates berkata: “Aku berpikir, maka aku ada” Kalimat itu menyalakan obor yang membebaskan manusia dari dogma, tapi kini obor itu membakar rumahnya sendiri. Rasio yang seharusnya memanusiakan, telah menjadi mesin penilaian, yang memisahkan yang logis dan dari yang layak hidup.
Aku sering bertanya dalam keheningan: “Apakah peradaban ini masih berpikir, atau hanya mengulang hasil pikirannya sendiri? Apakah hukum masih lahir dari nurani, atau sekedar dari ketakutan akan kekacauan? Apakah demokrasi masih berarti kebebasan berpikir, atau sekedar kebebasan memilih tanpa memahami?”.
Aku menulis ini karena aku lelah menyaksikan rasio yang bekerja tanpa kesadaran. Zaman Rasio telah berakhir bukan karena manusia bodoh, melainkan karena mereka terlalu yakin bahwa mereka pintar. Dan ketika keyakinan itu menjadi agama, maka kebenaran kehilangan suaranya.
Namun setiap akhir menyimpan benih permulaan. Di balik kelelahan rasio, aku mendengar suara halus, suara yang dulu disebut kebijaksanaan. Ia bukan datang dari laboratorium, melainkan dari kesunyian batin manusia. Ia tidak bicara dengan angka, tapi dengan pengertian. Ia berkata: “Aku adalah Shopia, kebijaksanaan yang kalian buang demi logika”.
Saat itulah aku tahu, bahwa rasio tidak perlu dibuang, hanya disadarkan. Bahwa dunia tidak butuh pemimpin baru, tapi cara berpikir baru. Bahwa negara yang bijak bukan dibangun oleh kekuasaan, melainkan oleh manusia yang telah mengenal jiwanya sendiri.
Dan karena itulah aku menulis. Untuk memberi nama bagi sistem yang belum ada, tapi telah lama menunggu dalam kesadaran manusia. Namanya adalah “Sophokrasi”, pemerintahan yang tidak berdiri di atas kekuasaan, melainkan di atas kebijaksaan yang hidup.
Zaman rasio telah selesai, namun dari reruntuhannya, sebuah cahaya baru mulai menyala. Bukan cahaya pengetahuan, melainkan cahaya pengertian.
Gus Sohe
Jakarta, 25 Oktober 2025