Kita selalu tahu tanggalnya.
21 April.
Kita hafal namanya.
Kita ulang ceritanya.
Kita sebut perjuangannya.
Dan di titik tertentu,
kita merasa sudah cukup.
Tapi ada satu hal yang jarang kita lakukan,
kita tidak pernah benar-benar masuk ke dalam kegelisahannya.
Raden Ajeng Kartini tidak sedang merayakan dirinya sendiri ketika ia menulis.
Ia gelisah.
Bukan karena ia tidak punya tempat.
Tapi karena ia melihat sesuatu yang tidak beres,
dan tidak semua orang menyadarinya.
Ia hidup di dalam sistem yang sudah selesai.
Nilai sudah ditentukan.
Peran sudah dibagi.
Makna sudah diwariskan.
Dan seperti kebanyakan orang,
ia bisa saja menerimanya.
Hidup tenang.
Diam.
Selesai.
Tapi ia tidak.
Ia mulai bertanya.
Dan pertanyaan itu, bukanlah pertanyaan kecil.
Bukan sekedar “mengapa perempuan tidak boleh sekolah?”
Tapi lebih dalam,
“Mengapa sesuatu yang diwariskan dianggap benar tanpa pernah diuji?”
Di titik itu, Kartini tidak lagi sedang memperjuangkan hak.
Ia sedang melakukan sesuatu yang lebih berbahaya,
ia menggugat kepastian.
Dan di sinilah ironi itu muncul.
Kita hari ini hidup di dunia yang “katanya” lebih bebas.
Perempuan bisa sekolah.
Bisa berbicara.
Bisa memilih.
Tapi pertanyaannya bukan lagi itu.
Pertanyaannya bergeser,
äpakah kita benar-benar berpikir, atau hanya merasa bebas?”
Kartini berhadapan dengan keterbatasan yang jelas.
Kita berhadapan dengan sesuatu yang lebih halus,
kebiasaan menerima tanpa sadar.
Ia kekurangan ruang untuk berpikir.
Kita punya ruang tanpa batas,
tapi jarang menggunkannya untuk mempertanyakan.
Maka mungkin masalahnya bukan lagi penindasan.
Tapi kenyamanan.
Dan kenyamanan adalah bentuk penjara yang paling rapi.
Ia tidak terasa.
Tidak melawan.
Tidak memaksa.
Tapi perlahan,
membuat kita berhenti bertanya.
Kalau begitu, apa artinya memperingati Kartini?
Apakah cukup dengan mengenang?
Atau sekedar mengulang cerita yang sudah selesai?
Atau,
apakah seharusnya kita melakukan sesuatu yang lebih tidak nyaman,
melanjutkan kegelisahannya.
Bukan dengan menjadi kartini baru.
Itu terlalu mudah sebagai slogan.
Tapi dengan melakukan satu hal yang sama,
tidak menerima realitas begitu saja.
Karena mungkin, di titik paling jujur,
Kartini tidak pernah meminta dirayakan.
Ia hanya memulai sesuatu
yang sampai hari ini, belum kita selesaikan.
Dan mungkin, pertanyaan itu sekarang berpindah tangan.
Bukan lagi miliknya.
Tapi milik kita,
“apa yang hari ini kita anggap wajar,
adalah hal yang belum pernah kita uji kebenarannya?”
Gus Sohe
Jakarta, 21 April 2026