Kacau
Satu kata itu yang saat ini bisa menggambarkan apa yang diriku rasa soal perasaan ini untukmu
Pemikiran filsafatku kalah dengan perasaan yang selalu bergejolak saat indra ini bersentuhan dengan sensasi realitas akan dirimu
Padahal pemikiran filsafat ini yang telah menyokong dasar kuat untuk kedirian ini
Tapi bak tak berdaya karena harus berhadapan dengan diri lain yang telah memberi kesan berbeda dari realitas biasanya
Tak hanya filsafatku yang kalah telak dengan hadirnya dirimu, tetapi meditasi laku zenku pun tak menenangkanku seperti diri ini tenang saat berada didekatmu
Padahal selama ini diriku kenal akan laku zen, ia lah yang menenangkanku saat merasa penat oleh hiruk pikuk dunia ini
Ia lah yang memberi minum saat diri ini kehausan akan kenyamanan, ketentraman, dan ketenangan untuk jiwa ini
Ya dirimu, yang telah merusak suasana ini
Bagai muara sungai yang usang adalah filsafat dan laku zen ini, dirimu yang telah menggantikan muara baru yang baru
Aku tahluk padamu my love.
Sudikah kau memberikan esensi mencintaimu kepadaku, yang juga sedang mencarinya
Esensi mencintai ideal yang mengandaikan kesalingan akan mencintaimu
Segenap jiwaku layak kehilangan selimut hangat yang menyelimuti diri dari dinginnya kesendirian
Yang sedang dalam perkelanaan mencari kesalingan itu tanpa mu
Sudikah kau mencintaiku layak diri ini mencintai dirimu,?
Sudikah kau untuk berbagi suka dan duka denganku,?
Sudikah kau mengarungi lautan luas kehidupan ini bersamaku dengan perahu cinta kita bersama,?
Aku menunggumu, menunggumu membuka hati untuk ku
Untuk cintaku
Dari yang mencintaimu
(Bandar Lampung, 5 September 2016)