Malam ini aku kembali membuka petaku
Peta yang telah lama ku simpan di brangkas dalam anjungan
Ia telah lama berada di dalam, diam membisu
Seolah menjadi sebuah artefak dalam sebuah ingatan
Malam ini aku sudah mulai tersadar
Dari kemabukan yang sangat lama aku nikmati
Merasa arah tujuan kapal ini benar
Tetapi justru ia berlayar tak terkendali
Titik kecil itu
Sebuah cahaya dari menara suar dari pulau yang tak kukenali
Pulau yang tak ku sangka ada
Dan belum pernah aku gambar sebelumnya
Malam ini aku mencoba menghitungnya kembali
Sebuah rumus destinasi yang ku kalkulasi 3 bulan lalu
Tampaknya ada beberapa faktor yang telah aku lewati
Dan itu cukup untuk membuat perhitungan baru
Titik koordinat 119, disitulah aku berada
Dan menara suar itu mungkin ada di titik 189
Pada sudut tepat 70 derajat
Dalam kawasan yang kunamai “Semester I”
Relasi-relasi ini muncul bak kebetulan yang disengaja
Oleh semesta samudra yang luas dalam kehidupanku
Integral dari rumus yang ku pakai waktu itu
Ternyata masih menyisakan celah yang terlalu menganga
Aku harus segera menamai pulau itu
Dan menggambarkannya di dalam peta ini
Pulau “Ar-18”, itu yang terlintas dalam pikiranku
Dan aku tetapkan untuk menjadi nama pulai ini
Lewat binocular yang kumiliki
Aku melihat kemuliaan pulau itu
Sebuah pemandangan yang tak biasa
Membuat kekaguman ku akan ciptaan semesta
Sekarang aku akan segera menghitungnya
Menghitung jaraknya dengan presisi
Dari titik dan sudut yang telah terdefinisi
Aku harap segera mendapatkan jawabannya
Aku tak tahu apakah aku berani
Berani untuk berlayar mendekatinya
Mencoba bersandar disana
Atau aku memilih untuk menjauhinya
Tetapi untuk memutuskan itu
Aku rasa sangat bijak untuk menahan sebentar
Laju kapal yang sudah lama berlayar ini
Dan diam di posisi dan jarak yang “tepat” ini
Yah, tepat adalah kata yang pas
Untuk menggambarkan keberanian dan ketakutanku
Yang sedang berdialektika dalam pikiran
Untuk segera menyelesaikan “Persamaan” baru ini
(Jakarta, 22 Januari 2026 Pukul 03:06 WIB)