Di sebuah kerajaan yang jarang disebut namanya,
Bertakhta seorang raja yang dijuluki Sang Bijak,
Ia memerintah bukan dengan pedang atau murka,
Melainkan dengan akal yang tenang dan tak gentar.
Rakyatnya adalah pikiran-pikiran yang tertata rapi,
Berbaris setiap pagi menurut hukum yang disusunnya sendiri,
Bertahun-tahun ia berdiri tanpa huru-hara yang berarti,
Sebab semua sudah di ukur, dan semua sudah dimengerti.
Hingga suatu malam yang tak tercatat dalam sejarah resmi,
Satu warna menyusup lewat gerbang yang tak pernah dikunci,
Sebab tak ada hukum yang mengatur tentang cinta,
Tak ada pasal yang menduga ia akan datang dengan sendirinya.
Warna ini terlalu pekat,
Sampai-sampai aku tersesat,
Dalam kehendak ku sendiri,
Dalam keterikatan ku sendiri.
Oh, Sang Bijak Raja Diraja diri,
Apakah kerajaanmu telah runtuh?
Apakah tatanan muliamu tak mampu,
Tak mampu mengendalikan situasi ini?
Dewan dalam istana kini bersuara dua,
Satu menuntut tertib, satu menyerah pada rasa,
Panji lama mulai pudar di tiang yang sama,
Digantikan warna pekat yang menjalar tanpa peta.
Sang Bijak duduk diam di atas takhtanya,
Tangannya yang dulu pasti kini makin gemetar,
Ia yang biasa memutus dengan kepala,
Kini tak yakin mana titah yang benar.
Dan yang paling getir bukan karena diserang,
Melainkan karena gerbang itu dibuka oleh tangannya sendiri,
Jauh sebelum kudeta ini punya nama atau punya bayang,
Ia sudah mencatat warna itu, diam-diam, di lembar yang tersembunyi.
Para penjaga gerbang kini tak tahu harus membela siapa?
Sebagian masih berdiri demi sumpah lama yang pernah diucap,
Sebagian sudah melepas baju zirahnya bergitu saja,
Sebab perang melawan warna tak pernah mereka siapkan dengan siap.
Jika kebijaksanaan menang, ia menang dengan tembok yang retak,
Sebab setiap pertahanan meninggalkan bekas di dinding sendiri,
Jika cinta yang bertakhta, akal lama akan jadi cerita usang,
Tentang raja yang dulu berdiri, sebelum perlahan tumbang sendiri.
Di luar gerbang, Sang Penguasa Baru sudah berdiri,
Membawa warna yang tak bisa ditolak untuk masuk,
Ia tak butuh pasukan, dan tak butuh barisan yang rapi,
Cukup satu warna untuk membuat seluruh kota runtuh.
Entah kerajaan kebijaksanaaan akan bertahan,
Atau menyerahkan mahkotanya tanpa perlawanan,
Malam ini takhta itu masih diduduki dua keinginan,
Dan tak ada yang tahu siapa yang akan memerintah esok hari?.
(Jakarta Timur, 21 Juni 2026 Pukul 21:12 WIB)