Dulu aku pernah menulis tentang pulau ini,
dari jarak yang terasa paling aman,
binocular di tangan, peta di pangkuan,
kapal yang sengaja kubiarkan diam.
Malam itu aku menamai pulau itu AR-18.
Tapi aku belum berani mendaratkan satu pun jangkar.
Malam ini,
tangan yang selama ini menunggu,
akhirnya menyerahkan sesuatu yang memang miliknya.
Bukan dengan cara yang dramatis.
Hanya sebuah buku,
dan sepasang mata yang membacanya,
lalu bertanya dengan suara yang sangat pelan,
Ini serius?
Ya.
Selalu serius.
Sejak jauh sebelum koordinat itu,
pertama kali kuhitung.
Detak jantung tidak mau berdetak biasa.
Napas tidak mau terhirup ringan seperti biasanya.
Untuk waktu yang begitu singkat menurut detik,
tapi terasa seperti satuan waktu terpanjang,
yang pernah kumiliki.
Hari-hari esok akan menentukan banyak hal.
Prinsip Kemungkinan Terburuk sudah kupatri,
siap menerima narasi apapun,
yang akan semesta berikan.
Tapi malam ini,
sebelum semua itu datang.
Aku hanya ingin berdiri sejenak disini,
di dermaga yang selama ini hanya ada di dalam peta,
dalam kebahagiaan yang paling sederhana,
dan paling dalam,
yang pernah kurasakan.
Terima kasih, malam ini.
Kamu sudah lebih dari cukup.
(Jakarta Timur, 11 Juni 2026 Pukul 02:02 WIB)