71 tahun lamanya dikau terbang
Menembus batas dari kepulauan nusantara
Sejak dikau terlahir dari sebuah pidato Sakral
Yang dibacakan oleh Ir. Soekarno sang ayahhanda
1 Juni adalah hari lahir mu
Yang setiap tahunnya kami peringati dengan bermacam euforia
Ada sebagian kami mengadakan seremonial upacara untuk mu
Ada juga yang melakukannya dengan berbagai kegiatan bermanfaat lainnya
Tapi aku,
menjadikan hari ini sebagai momentum
momentum untuk merefleksikan
merefleksikan akan hadirnya dirimu
Telah 71 tahun dikau mengepakkan sayapmu
Menyusuri tiap hati para anak bangsa
Kau adalah lambang pemersatu kami
Bhinneka Tunggal Ika ialah kalimah suci yang kau hembuskan
Dalam setiap keberadaanmu, itulah yang kau teriakkan
Kau digagas oleh para pendiri bangsa
Sebagai simbol harapan yang mulia
Itu manifestasi dari sebuah cita-cita
Luhur nan suci tiada terkira
Namun,
Ironi… jika aku merefleksikannya saat ini
Cita-cita nan luhur yang dahulu diharapkan
Oleh segenap dan seganjil pejuang bangsa
Belum nampak wujud kecilnya
Meski sudah sekian lama
Mungkin tempatmu istimewa di setiap sudut ruangan kami
Citra dirimu melebihi 2 citra pemimpin kami
Pak Presiden dan Pak Wakil Presiden
Tapi tidak untuk hati kami
Karena hati kami adalah untuk pandangan kami sendiri
Kau telah gagal merangkum kemajemukan bangsa ini
Kau pun tak menampakkan secuil harapan untuk itu
Kau gagal untuk menjadi pandangan hidup bersama bagi kami
Tapi, ah.. itu hanya bualanku saja
Kami sadar, bukan kau yang gagal
Tetapi kamilah yang gagal
Gagal untuk mendongak bersama kearahmu
Kearah kalimah suci yang selalu kau teriakkan
Bukan kau yang gagal merangkum kemajemukan ini
Tetapi kami yang tak sadar akannya
Kami menutup diri dan mendengar suara dari dalam
Yang itu adalah suara ego kami sendiri
Kami hanya mementingkan kepentingan kami sendiri
Dan mungkin juga kepentingan golongan kami sendiri
Tak sedikitpun kami berfikir untuk terbuka
Terbuka untuk kepentingan bersama dan bangsa
Sungguh naif jika kami masih berlaku demikian
Menyalahkanmu saat kami yang salah
Melemahkanmu saat kami yang lemah
Menghinamu saat kami yang hina
Mengkambinghitamkan mu saat kami sadar
Kamilah dalang dari kebiadaban ini
Hari ini
Tepat di hari lahirmu
Kami mengakui dosa kami pada mu
Dosa yang kami buat sedari kau lahir
Cita-cita luhur yang kami hianati
Kepada kami para penerus bangsa
Hari ini kami berikrar
Akan mencoba belajar dari sejarah yang kelam
Sejarah yang harusnya hanya menjadi sejarah
Menjadi pelajaran bagi jiwa yang sadar
Akan masa kini dan nanti yang lebih baik
Kami juga berikrar
Akan menerima kemajemukan yang telah niscaya
Dan menjadikanmu pandangan hidup sesuai esensinya
Bukan euforia semata, tetapi patri jiwa yang mendalam
Cukup 71 tahun saja kami tak acuh akan mu
Mulai hari ini, jam ini, menit ini, detik ini
Menjadi pemutus akan ketak acuhanku
Dan menjadi penyambung akan keacuhanku
Selamat hari lahir Pancasila ku
Semoga aku bisa mengemban amanah para penggagasmu
Menjadikan bangsa ini sentosa untuk selamanya
Terimalah haturan dosa ku
Dari anak bangsa yang mencintaimu
(Jakarta, 1 Juni 2016)