Realitas yang dibelah sedemikian rupa
Telah menjadikan manusia lupa
Bahwa ia tak akan pernah bisa
Menghindari segala realitas yang memang apa adanya
Kebenaran yang selalu menjadi sebuah jargon
Kebaikan yang selalu menjadi postulat agung
Dan keindahan yang menjadi pelengkap 3 keesaan asas itu
Telah meninggalkan sisi lain dari sisi yang menjadi pelengkap sebuah realitas
Itu adalah kesalahan, keburukan, dan kejelekan
Kesalahan yang selalu di anggap bodoh
Keburukan yang selalu di anggap hina
Dan Kejelekan yang menyimbolkan rendahnya nilai
Apa yang membuat manusia melakukan hal itu?
Apa yang mendesak manusia agar berjalan dalam rel itu?
Apa juga yang membuat manusia memiliki tujuan ke arah itu?
Apa yang ia cari sebenarnya?
Tidakkah bisa manusia menerima realitas ini apa adanya?
Apakah manusia tak mampu hidup untuk hidup seperti hidup itu sendiri?
Hidup yang tanpa penilaian yang selalu mendegradasikan hidup?
Hidup berdasarkan esensi hidup yang hidup dalam kehidupan itu sendiri?
Sudah lama kita bersikap tak sopan terhadap realitas ini
Sudah lama mental pembelah realitas ini diwariskan
Kepada kita yang sejatinya tidak tahu apa apa
Tidak juga tahu soal apa yang telah terwariskan kepada kita
Maukah kita membuka diri dengan realitas ini?
Memeluk erat segala tanpa pemisahan diri?
Membuang gen yang sejatinya adalah gen paksaan
Mengambil gen yang pernah kita buang, dalam masa kepolosan kita
Tidak tahu adalah kealamian kita
Mahu tahu adalah juga kealamian kita
Menjadi tahu adalah bukti bahwa kita
Memang benar benar tidak tahu
(Cibubur, 26 Desember 2016)