Jum’at, 4 November 2016 besok akan menjadi hari yang bersejarah bagi rakyat Ibukota khususnya dan Rakyat Indonesia pada umumnya. Jum’at esok akan ada 1 juta masa estimasi yang akan melaksanakan unjuk rasa di Ibukota, tepatnya di 2 titik, yaitu Istana Negara dan Balai Kota. Itu akan menjadi catatatn rekor tersendiri dalam dinamika politik berdemokrasi yang ada di negri ini.
Masa reformasi 98 yang hampir mencapai angka 500 ribu masa pun akan terlewati jika memang yang ikut aksi unjuk rasa besok mencapai angka 1 juta masa. Sungguh tinta sejarah yang sulit dilupakan untuk generasi kita sekarang, juga sebagai bahan cerita untuk anak cucu kita nanti pastinya, layaknya kita mendengar cerita tentang sejarah sejarah reformasi 98.
Aksi 4 November ini adalah jilid ke dua dari aksi “Bela Islam dan Bela Al-Qur’an” yang dilakukan oleh berbagai ormas islam di Indonesia. Pada jilid yang pertama, tanggal 14 Oktober 2016, masa yang ikut aksi dalam wilayah JABOTABEK saja lebih dari 3 ribu masa. Dalam aksi 4 November besok, diperkirakan akan ada 1 juta masa yang akan meneriakkan tuntutan yang sama, yaitu : “Adili Ahok sang Penista Al-Qur’an”
“Tak ada asap jika tak ada api”, mungkin itu pribahasa yang bisa saya berikan sebagai pengantar saya di tulisan saya ini. Saudara – saudaraku juga mungkin sudah paham benar bahwa aksi ini adalah reaksi dari pernyataan Ahok yang dianggap “menistakan” Islam umumnya dan Al-Qur’an khususnya. Juga perkataan – perkataan yang dianggap kurang pantas untuk diucapkan oleh seorang Basuki Cahya Purnama sebagai pemimpin Jakarta.
Aksi besok adalah aksi puncak dari aksi – aksi yang dilakukan oleh mereka sang pembela Islam dan Qur’an. Merasa aksi – aksi kecil yang mereka lakukan selama ini tak pernah digubris oleh Pemerintah Pusat, mereka pun mengadakan aksi masif ini sebagai bentuk keseriusan dalam upaya tuntutan mereka kepada Pemerintah pusat untuk melaksanakan segala tuntutan yang mereka ajukan.
Saya tidak akan membahas terlalu mendalam tentang standar penilaian saya soal masalah ini. Saya tidak akan ikut andil dalam menentukan pihak mana yang benar dan salah dalam konteks masalah ini. Karena saya sadar masih banyak orang diatas sana yang lebih kopeten dalam menentukan penilaian itu.
Yang coba saya lakukan dalam tulisan ini adalah untuk mencoba merefleksikan masalah yang sebenarnya bagi saya bukan sebuah masalah yang patut mendapat perhatian sebesar ini, karena cukup sayang jika kita membuang waktu kita untuk fokus ke dalam masalah ini. Lebihlah bijaksana menurut saya, untuk menjadikan ini ajang refleksi untuk diri kita masing-masing untuk perbaikan diri pribadi untuk mengambil sisi positif yang ada dan membuang sisi negatif yang juga ada.
Dalam konteks ini saya teringat akan sebuah reflektif dari sebuah tulisan yang pernah saya post dalam blog saya ini sebagai tulis ulang dari blog www.rumahfilsafat.com oleh Pak Reza, bisa di baca disini “Identitas itu Ilusi”. Menurut saya masalah – masalah seperti ini adalah wujud dari kemelekatan akan identitas yang sebenarnya ilusi.
Mungkin kemelekatan akan identitas disini bisa saya sebut sebagai sebuah “penyakit”. Penyakit yang sudah kita derita sedari kecil. Penyakit yang diciptakan oleh orang tua kita, dan oleh lingkungan sosial kita. Dan kita tidak akan pernah menemukan obat dari penyakit ini, jika kita sendiri tidak mau sembuh dari penyakit ini.
Refleksisasi diri soal identitas yang kita terima sedari kecil bisa menjadi obat dari penyakit yang kita derita ini. Setidaknya ini telah saya pribadi coba, dan obat ini cocok untuk saya. Sekarang saya mencoba untuk menawarkan obat ini kepada saudara – saudarku sekalian setanah air. Bukan bermaksud menggurui, tetapi untuk mengajak merefleksikan ini bersama.
Setidaknya ada niat saya untuk ikut berpartisipasi dalam momentum yang akan menjadi sejarah bagi bangsa kita. Pesanku untuk saudaraku yang ikut aksi besok “Unjuk rasa adalah wadah penyampaian aspirasi dan pendapat bukan untuk pemaksaan kehendak”.
Dan saya menyeru kepada saudara – saudarku :
Kita adalah Indonesia
Kita telah lama hidup bersama
Bukan hanya satu kepala
Bukan hanya satu agama
Bukan hanya satu dinamika
Kita adalah Indonesia
Kemajemukan adalah ciri kita
Ke Bhinekaan adalah semboyan kita
Ke Sentosaan adalah tujuan kita
Kita adalah Indonesia
Tak mudah untuk memecahbelah kita
Karena kita punya Pancasila
Sebagai dasar negara kita
Kita adalah Indonesia
Kita bukan timur
Kita bukan barat
Tapi Kita Indonesia
Kita adalah Indonesia
Bukan hanya Islam
Bukan hanya Kristen
Ataupun yang lainnya
Tapi kita Indonesia
Kita adalah negri terkaya
Kaya adat
Kaya budaya
Kaya bahasa
Banyak adat di negri kita
Banyak budaya di negri kita
Banyak bahasa di negri kita
Keberagaman adalah kebanggaan kita
Karena kita INDONESIA
Salam Damai.
Gus Sohe