Bukan Anugrah, Tapi Kutukan

Refleksi tentang Kehidupan dan Kematian (Lawan Sebuah Ilusi)

Mendapatkan apa yang tidak kita inginkan bukanlah suatu keberuntungan atau anugrah, tetapi kutukan.

Bukan anugrah kehidupan, tetapi kutukan kehidupan.

Karena sesungguhnya kehidupan bukanlah suatu anugrah dari Sang pencipta yang dielukan sebagai “TUHAN”, tetapi kehidupan adalah kutukan dari sesuatu yang saya elukan sebagai Sang Pengutuk. Karena begitu banyak kutukan-kutukan yang diberikan kepada makhluk yang bernama “manusia”. Saya tahu karena saya juga termasuk apa yang disebut manusia itu.

Coba pikirkanlah, apakah ada manusia yang benar-benar meminta untuk hidup didunia ini pada awalnya.?

Jika jawabannya adalah “ada” pasti ada sebuah bukti untuk mengungkapkannya.

Jika jawabannya adalah “tidak ada” tidaklah perlu bukti untuk membuktikan sesuatu yang tidak ada.

Tanyakanlah kepada bayi yang baru lahir ke dunia ini apakah dia minta untuk dilahirkan ke dunia ini,?

apakah dia meminta untuk lahir di rahim ibu A, dan bukannya ibu B,?

apakah dia meminta untuk terlahir di keluarga yang sejahtera menurut takaran ekonomi, ataupun sengsara menurutnya pula,?

Belum lagi jika kita memperhatikan kondisi fisik seorang yang kurang lengkap,? Dan juga kondisi kejiwaan yang kurang sehat,?

Lihatlah kenyataan ini. Apakah mereka benar-benar meminta semua keadaan ini,?

TIDAK. Mereka semua terkutuk, kita pun termasuk manusia yang penuh dengan kutukan dari Sang Pengutuk itu.

Jika kita mendapatkan apa yang kita inginkan itu barulah sebuah keberuntungan, sebuah anugrah. Namun jika kita mendapat sesuatu yang kita tidak inginkan masalah besar sedang menimpa kita, karena kita sedang mendapatkan kutukan.

Pikirkanlah kembali apa yang sebenarnya kau inginkan, jika itu sudah kau dapatkan, kau telah dipenuhi anugrah, tapi jika kau juga mendapat sesuatu yang tidak kau minta berhati-hatilah karena itu adalah sebuah kutukan.

Soal Kematian, bukanlah ia sebagai pemutus kenikmatan yang sering digemborkan. Sejatinya kematian adalah pemutus kutukan yang diberikan oleh Sang Pengutuk.

Sang Pencerah Shidartha Gautama.

Sang Filsuf Sokrates.

Sang Juru Selamat Yesus Kristus.

Sang Utusan Allah Muhammad.

Telah mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak perlu takut akan kematian, justru kita seharusnya senang menyambutnya. Tidak tersirat maksud mereka semua, tapi bagi saya meskipun alasan mereka berbeda dalam penyampaian ajarannya. Mereka menyampaikan seperti saya, bahwa kematian adalah pemutus kutukan, bukan pemutus anugrah.

Hanya orang bodoh yang menyambut kematian dengan suka cita jika dia masih beranggapan kematian adalah pemutus anugrah atau nikmat.

Tapi bersuka cita itu untuk orang yang menyambut kematian karena dia menganggap bahwa kematian adalah pemutus kutukan.

Gus Sohe

Bandar Lampung, 15 September 2015