BID’AH
Sebut saja diriku begitu
Itu adalah kebebasanmu untuk menilaiku
Mungkin seperti itu aku dimatamu
Dan ku tak akan pernah menyalahkanmu
SESAT…
Teriakan saja kata itu kepadaku
Tak kan ku sangkal tuduhanmu itu
Sebagai bentuk apresiasiku kepadamu
Karena engkau telah peduli denganku
KAFIR…
Tuduh saja diriku seperti itu
Tak akan kusalahkan penilaianmu kepadaku
Adalah hak mu untuk menentukan penilaian itu
Sebagai pilihan bebas yang telah engkau pilih
Penilaian apapun terhadap diriku
Yang berasal dari semua orang
Adalah penilaian yang sangat aku afirmasi
Dalam arti, aku menerima semua penilaian itu
Diluar kuasaku untuk menyalahkan penilaian itu
Begitupun pembenarannya, aku tidak punya ilmu tentang itu
Bagiku, penilaian selain dari Sang Penilai yaitu Allah
Adalah penilaian yang bersifat relatif dan tidak mutlak
Setiap orang berhak untuk menilai sesuatu
Dengan dasar pertimbangannya sendiri
Dengan dasar pengalaman yang ia hadapi sendiri
Dan itu menjadi batas nilai untuk dirinya sendiri
Setiap orang memiliki kebenarannya sendiri
Setiap orang memiliki tafsirnya sendiri
Setiap orang memiliki interpretasinya sendiri
Itu adalah sebuah keniscaaan yang Allah beri
Pembelaan atas penilaian orang lain adalah sia-sia
Karena untuk apa membela diri sendiri
Disaat kita pun tak tau kebenaran mutlaknya
Toh esensinya, kita tidak ditugaskan untuk saling menilai
Lebihlah bijak bagiku untuk saling introspeski diri
Mengingat lagi untuk apa kita disini
Bukan untuk menjadi penilai atau juri
Tapi kitalah yang sedang dinilai dan dijurii
Jadi,
Lakukanlah yang ter benar menurutmu
Lakukanlah yang ter baik menurutmu
Lakukanlah yang ter indah menurutmu
Untuk hasil, kita berlepas diri itu
Tetapi ingat,
Jangan paksakan kebenaranmu untuk diterima orang lain
Jangan paksakan kebaikanmu untuk diterima orang lain
Juga jangan paksakan keindahanmu untuk diterima orang lain
Kepada Allah lah kita berpasrah dan berserah diri
Berbagilah kebenaran kepada sesama
Berbagilah kebaikan kepada sesama
Berbagilah keindahan kepada sesama
Itu adalah bentuk Rahmatan lil alamin
Ingatlah juga, pada esensinya,
Kita masih berada di jalan yang tak lurus
Dan selama hidup kita akan terus seperti itu
Proses perjuangan menuju kelurusan itulah, yang menjadi ciri kehidupan kita
Karenanya kita selalu memohon kepada Allah
Satu permohonan yang terus saja kita ucapkan
Selama ritual perjumpaan kita dengan Nya
“Ihdinash shiraathal mustaqiim”
Sungguh indah apa yang coba Allah ajarkan
Ketidak tahuan yang memang menjadi asal kita
Dan menjadikan hidup ini adalah sebuah proses
Yang mana hasilnya adalah Kuasa Nya
Sungguh kontras esensi ini jika di lihat eksistensinya sekarang
Banyak di antara kita yang merasa sudah, lebih, bahkan paling
Benar, baik, dan indah dibanding dengan yang lain
Sebagai klaim pribadi yang paten
Aku berlepas diri dari apa yang ia lakukan itu
Aku hanya bisa mendo’akan
Semoga Allah mengampuni dosanya jika ia berdosa
Dan menerima pahalanya jika ia berpahala
Aku hanya melakukan tindakan di dalam kuasaku
Tindakan yang aku dasari hanya dengan kesadaranku
Tidak terlalu sibuk untuk membuat sebuah label benar, baik, indah
Hanya melakukan yang patut aku lakukan
Seperti halnya ketika lapar
Sudah sepatutnya aku makan
Ketika haus, aku minum
Ketika lelah, aku istirahat
Dengan sadar aku melakukan itu
Mungkin kepatutan sudah menjadi asas moralku
Bagai aksioma dan postulat
Yang sudah ada sebagaimana ia ada
Aku pun tidak tahu
Apakah agamaku saat ini?
Dan apa aku seorang Muslim, Kristen, Hindu atau Atheis sekalipun
Aku tidak bisa mengklaimnya, karena hanya Allah yang punya Hak prerogratif itu
Hanya kepada Mu lah aku menyembah
Dan hanya kepada Mu lah aku memohon pertolongan
Jika ada yang masih ingin menilaiku bid’ah, sesat, kafir
Itu memposisikan mu di tempat yang sebaliknya
Engkau tidak bid’ah, tidak sesat, tidak Kafir
Jadi tolonglah aku yang bid’ah, sesat, dan kafir ini
(Cibubur, 08 Januari 2017)