Aku Yang Bid'ah, Sesat, Dan Kafir

Oleh : Gus Sohe

BID’AH

Sebut saja diriku begitu

Itu adalah kebebasanmu untuk menilaiku

Mungkin seperti itu aku dimatamu

Dan ku tak akan pernah menyalahkanmu

SESAT…

Teriakan saja kata itu kepadaku

Tak kan ku sangkal tuduhanmu itu

Sebagai bentuk apresiasiku kepadamu

Karena engkau telah peduli denganku

KAFIR…

Tuduh saja diriku seperti itu

Tak akan kusalahkan penilaianmu kepadaku

Adalah hak mu untuk menentukan penilaian itu

Sebagai pilihan bebas yang telah engkau pilih

Penilaian apapun terhadap diriku

Yang berasal dari semua orang

Adalah penilaian yang sangat aku afirmasi

Dalam arti, aku menerima semua penilaian itu

Diluar kuasaku untuk menyalahkan penilaian itu

Begitupun pembenarannya, aku tidak punya ilmu tentang itu

Bagiku, penilaian selain dari Sang Penilai yaitu Allah

Adalah penilaian yang bersifat relatif dan tidak mutlak

Setiap orang berhak untuk menilai sesuatu

Dengan dasar pertimbangannya sendiri

Dengan dasar pengalaman yang ia hadapi sendiri

Dan itu menjadi batas nilai untuk dirinya sendiri

Setiap orang memiliki kebenarannya sendiri

Setiap orang memiliki tafsirnya sendiri

Setiap orang memiliki interpretasinya sendiri

Itu adalah sebuah keniscaaan yang Allah beri

Pembelaan atas penilaian orang lain adalah sia-sia

Karena untuk apa membela diri sendiri

Disaat kita pun tak tau kebenaran mutlaknya

Toh esensinya, kita tidak ditugaskan untuk saling menilai

Lebihlah bijak bagiku untuk saling introspeski diri

Mengingat lagi untuk apa kita disini

Bukan untuk menjadi penilai atau juri

Tapi kitalah yang sedang dinilai dan dijurii

Jadi,

Lakukanlah yang ter benar menurutmu

Lakukanlah yang ter baik menurutmu

Lakukanlah yang ter indah menurutmu

Untuk hasil, kita berlepas diri itu

Tetapi ingat,

Jangan paksakan kebenaranmu untuk diterima orang lain

Jangan paksakan kebaikanmu untuk diterima orang lain

Juga jangan paksakan keindahanmu untuk diterima orang lain

Kepada Allah lah kita berpasrah dan berserah diri

Berbagilah kebenaran kepada sesama

Berbagilah kebaikan kepada sesama

Berbagilah keindahan kepada sesama

Itu adalah bentuk Rahmatan lil alamin

Ingatlah juga, pada esensinya,

Kita masih berada di jalan yang tak lurus

Dan selama hidup kita akan terus seperti itu

Proses perjuangan menuju kelurusan itulah, yang menjadi ciri kehidupan kita

Karenanya kita selalu memohon kepada Allah

Satu permohonan yang terus saja kita ucapkan

Selama ritual perjumpaan kita dengan Nya

“Ihdinash shiraathal mustaqiim”

Sungguh indah apa yang coba Allah ajarkan

Ketidak tahuan yang memang menjadi asal kita

Dan menjadikan hidup ini adalah sebuah proses

Yang mana hasilnya adalah Kuasa Nya

Sungguh kontras esensi ini jika di lihat eksistensinya sekarang

Banyak di antara kita yang merasa sudah, lebih, bahkan paling

Benar, baik, dan indah dibanding dengan yang lain

Sebagai klaim pribadi yang paten

Aku berlepas diri dari apa yang ia lakukan itu

Aku hanya bisa mendo’akan

Semoga Allah mengampuni dosanya jika ia berdosa

Dan menerima pahalanya jika ia berpahala

Aku hanya melakukan tindakan di dalam kuasaku

Tindakan yang aku dasari hanya dengan kesadaranku

Tidak terlalu sibuk untuk membuat sebuah label benar, baik, indah

Hanya melakukan yang patut aku lakukan

Seperti halnya ketika lapar

Sudah sepatutnya aku makan

Ketika haus, aku minum

Ketika lelah, aku istirahat

Dengan sadar aku melakukan itu

Mungkin kepatutan sudah menjadi asas moralku

Bagai aksioma dan postulat

Yang sudah ada sebagaimana ia ada

Aku pun tidak tahu

Apakah agamaku saat ini?

Dan apa aku seorang Muslim, Kristen, Hindu atau Atheis sekalipun

Aku tidak bisa mengklaimnya, karena hanya Allah yang punya Hak prerogratif itu

Hanya kepada Mu lah aku menyembah

Dan hanya kepada Mu lah aku memohon pertolongan

Jika ada yang masih ingin menilaiku bid’ah, sesat, kafir

Itu memposisikan mu di tempat yang sebaliknya

Engkau tidak bid’ah, tidak sesat, tidak Kafir

Jadi tolonglah aku yang bid’ah, sesat, dan kafir ini

(Cibubur, 08 Januari 2017)